Penanganan Bahan Baku Pada Jasa Katering

Dalam usaha tata boga/katering, penanganan bahan baku menjadi bagian penting yang menjadi bagian dari pengendalian proses. Pada Sistem Manajemen Keamanan Pangan, bahan baku harus dikelola dengan tepat. Disesuaikan dengan regulasi serta standar persyaratan yang ditetapkan terkait dengan keamanan pangan serta kualitas.

Berikut ini adalah gambaran penanganan bahan baku yang dapat dijalankan pada jasa katering.

(1) Bahan Baku Hasil Ternak

Bahan baku ini dapat berbentuk material fresh dan juga material frozen. Harus memastikan produk yang diterima berasal dari hewan ternak yang sehat, yang dapat dibuktikan dengan sertifikasi NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Dengan bukti sertifikasi tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa bahan baku yang dimaksud berasal dari hewan ternak yang sehat.

(2) Bahan Baku Perikanan

Penggunaan bahan baku dapat berasal dari material budi daya maupun hasil tangkap. Melakukan pemeriksaan atas kesegaran ikan untuk produk fresh sedangkan untuk produk frozen, pemeriksaan dapat dilakukan dengan menjalankan pemeriksaan atas temperatur produk. Lebih memprioritaskan bahan baku yang telah mendapatkan sertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) ataupun HACCP.

(3) Buah-buahan dan Sayuran

Bahan baku harus dipastikan dalam kondisi fresh dan utuh. Dalam kondisi tertentu dapat mempergunakan material frozen. Selalu memastikan penggunaan hanya satu kali langsung habis untuk produk fresh. Penggunaan kelebihan dan pengemasan ulang harus selalu mempertimbangkan kesegaran dari material yang dimaksud.

(4) Air

Air dapat dipergunakan sebagai bahan baku dari produk usaha katering, seperti sup ataupun produk lainnya. Selain itu, air juga dipergunakan dalam proses steaming, perebusan dan pencucian Mempertimbangkan hal tersebut, penggunaan air dengan standar persyaratan air minum sesuai denan regulasi Pemenkes No. 2 tahun 2025.

(5) Kemasan

Produk kemasan yang dipergunakan pada kemasan yang kontak langsung dengan produk adalah dengan dengan kualitas Food Grade. Kemasan inner maupu outer juga harus dipastikan bukan berasal dari material recycle yang berbahaya.

(6) Ingredient

Bahan baku ingredient yang dipergunakan adalah material yang terkemas baik, tidak expired dan tidak mengandung material berbahaya. Penggunaan material ingredient manufacturing harus dipastikan memiliki ijin edar.

Pengendalian bahan baku pada sektor jasa katering, harus dipertimbangkan dengan memastikan bahwa seluruh bahan baku sesuai dengan standar persyaratan baik secara mutu maupun keamanan pangan. Lakukan proses referensi eksternal yang tepat dalam mengelola keamanan pangan pada sektor jasa katering. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Implementasi ISO 19011:2026 pada Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Proses internal audit yang dijalankan dalam persyaratan keamanan pangan, sebaiknya dilakukan dengan tepat dan disesuaikan dengan standar persyaratan keamanan pangan. Perubahan atas regulasi itu sendiri menjadi bagian penting untuk dipertimbangkan dalam penerapan internal audit. Salah satu persyaratan yang harus dipertimbangkan dalam proses implementasi audit keamanan pangan adalah persyaratan ISO 19011:2026.

Bagaimana penerapan ISO 19011: 2026 sesuai dengan persyaratan yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, berikut ini adalah ilustrasi gambaran yang dimaksud.

Untuk dapat meningkatkan kualitas Sistem Manajemen Internal Audit di dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan, pastikan bahwa perusahaan selau memastikan pengkinian atas standar sistem yang terbaru. Lakukan proses pelatihan dan pencarian referensi eksternal yang tepat agar pelaksanaan Internal Audit Sistem Manajemen Keamanan Pangan di dalam perusahaan berjalan dengan tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Melihat Perbedaan QA Manager dan Food Safety Team Leader

Di dalam industri pangan, keberadaan Food Safety Team Leader adalah persyaratan wajib yang terkait dengan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Selain FSTL (Food Safety Team Leader), dalam mengelola sistem, perusahaan dapat mengembangkan fungsi Quality Assurance Manager. Beberapa perusahaan, melakukan penggabungan QA Manager dengan Food Safety Team Leader, namun terdapat beberapa perusahaan yang memisahkan antara fungsi QA Manager dan FSTL.

Agar lebih jelas dalam memahami perbedaan yang berikut ini, berikut ini adalah perbedaan antara QA Manager dan FSTL.

Dengan melakukan analisis terkait dengan perbedaan yang dimaksud, perusahaan dapat melakukan pengembanan fungsi dengan tepat. Untuk dapat memaksimalkan perbedaan yang dimaksud, perusahaan dapat melakukan pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pengelolaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

7 Langkah dalam Mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan pada Shop Floor Level

Dalam industri, penerapan sistem yang paling kritikal dan memiliki tantangan adalah penerapan sistem pada shop floor level (level pelaksana di lapangan). Hal ini lebih banyak disebabkan pada tingkat kepraktisan yang dijalankan yang mana menyebabkan kesulitan dalam menjalankan sistem. Dengan tantangan yang ada tersebut, perusahaan dapat mengembangkan langkah-langkah yang dimana dapat dipergunakan untuk dapat mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan pada level yang dimaksud.

Berikut ini adalah gambaran bagaimana perusahaan dapat menjalankan proses implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan pada Shop Floor Level.

Langkah yang ada terlihat panjang dan rumit, namun tujuan utama yang diharapkan adalah bukan untuk menimbulkan penerapan keamanan pangan ala kadarnya saja, namun benar-benar suatu penerapan yang dijalankan sesuai dengan standar. Pastikan perusahaan dapat menjalankan implementasi dengan tepat dan mempergunakan referensi eksternal yang berpengalaman agar implementasi tersebut dapat berjalan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menjalankan Kegiatan Internal Audit GMP

Dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, kegiatan internal audit GMP (Good Manufacturing Practice) adalah wajib untuk dijalankan. Penetapan atas internal audit GMP dapat dilaukan dengan periode waktu yang disesuaikan dengan resiko produk. Untuk dapat menjalankan kegiatan internal audit GMP yang efektif, berikut ini adalah tahapan-tahapan yang dapat dijalankan.

Kegiatan ini menjadi bagian verifikasi untuk dapat mengukur tingkat efektifitas dari penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan itu sendiri. Untuk dapat memaksimalkan efektifitasnya, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Praktis Pelaksanaan Keamanan Pangan Pada Katering MBG

Pelaksana dari katering MBG (Makan Bergizi Gratis) menjalankan pelaksanaan pengolahan pangan katering yang bersifat kontinyu dan massif. Melihat pada pertimbangan tersebut, kebutuhan untuk menjalankan keamanan pangan menjadi sistem yang diaplikasikan. Namun, mempertimbangkan bahwa beberapa pelaksana dari kegiatan MBG banyak didominasi oleh pelaku usaha kecil dan menengah. Tahapan praktis awal dapat dipergunakan sebagai bentuk proses pelaksanaan keamanan pangan pada katering MBG. Berikut ini adalah tahapan yang dapat dijalankan oleh pelaku usaha yang dimaksud.

Untuk dapat menjalankan sistem yang tepat, penerapan keamanan pangan perlu diaplikasikan dengan tepat dengan mempertimbangkan skala usaha yang tepat dengan mempertimbangkan atas resiko yan terkait dengan kualitas dan keamanan pangan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pelaksanaan yang terkait dengan keamanan pangan pada program MBG. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Praktis dalam Menyusun HACCP Manual pada Food Service/Katering

Bagi pelaku dunia food service/katering, penyusunan HACCP Manual menjadi hal yang terkadang rumit dan sulit untuk dijalankan. Hal ini tentu saja menjadi hambatan apabila akan melakukan peningkatan sistem dan mengimplementasikan manajemen keamanan pangan.

Berikut ini adalah 6 langkah praktis yang dapat dijalankan setiap pelaku sektor food service/katering dalam menyusun HACCP Manual.

Selain langkah yang dimaksud, ada baiknya pelaku sektor katering/food service melakukan kajian atas referensi yang berhubungan dengan Codex HACCP CXC 1-1969 versi 2022. Dengan mempergunakan referensi eksternal, dapat dipastikan proses penyusunan dokumen dan implementasi dalam penyediaan makanan untuk katering dan food service dapat berjalan dengan maksimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengembangkan Program Pelatihan Keamanan Pangan pada Food Retail

Pengembangan food retail saat ini mengalami peningkatan bisnis yang positif. Namun di balik pertumbuhan tersebut, terdapat bom waktu yang dapat muncul yaitu resiko keamanan pangan. Untuk dapat menjamin persyaratan keamanan pangan, program pelatihan keamanan pangan dapat dikembangkan. Dengan tujuan untuk memastikan bahwa kesadaran personel untuk menjamin terkait dengan pengendalian atas penanganan bahan pangan serta pengolahan yang tepat untuk mencegah adanya kontaminasi.

Berikut ini adalah ilustrasi yang terkait dengan program pelatihan keamanan pangan pada food retail.

Untuk dapat memiliki pelatihan yang efektif, penggunaan referensi eksternal dapat dipergunakan untuk dapat memberikan kontribusi pengembangan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang berpengalaman dalam mengembangkan jaminan keamanan pangan pada bisnis food retail. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengelola Food Retail Dari Kontaminasi Mikroba Pathogen

Pengelolaan food retail memiliki tingkat resiko yang tinggi terkait dengan kondisi penanganan serta pengolahan atas produk food retail. Potensi yang berhubungan dengan kontaminasi pathogen adalah salah faktor dengan resiko tinggi yang membutuhkan perhatian penting. Pathogen ini muncul sebagai akibat dari kontaminasi silang atau dari pertumbuhan produk pangan itu sendiri. Bakteri pathogen, adalah bakteri yang memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan konsumen. Bakteri pathgoen ini dapat berasal dari produk pangan itu sendiri (seperti bahan baku segar, kemasan, ataupun ingredient) dan dari kontaminasi (berasal dari lingkungan, peralatan, dan personel yang menangani produk itu sendiri).

Untuk memastikan bahwa keamanan produk dan dapat terbebas dari kontaminasi pathogen. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh unit pengolahan pangan pada food retail untuk mencegah kontaminasi mikroba pathogen.

Dengan mempelajari langkah yang tepat, pencegahan kontaminasi bakteri pathogen dari produk pangan dapat dilaksanakan dengan maksimal. Lakukan pengelolaan proses yang tepat untuk dapat meningkatkan kualitas dan keamanan pangan produk. Unit usaha dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat untuk mencegah mikrobiologi pathogen pada produk itu sendiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Manfaat Sertifikasi HACCP Pada Sektor Food Retail/Service

Sertifikasi HACCP dijalankan untuk sektor Food Retail/Service terkait dengan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Meskipun sertifikasi HACCP itu memberikan beban biaya bagi perusahaan, namun manfaat yang didapatkan terkait dengan sertifikasi HACCP pada sektor Food Retail/Service.

Melihat manfaat tersebut, tidak ada salahnya perusahaan food service/food retail melakukan proses implementasi serta sertifikasi keamanan pangan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal untuk menjalankan proses sertifikasi HACCP untuk meningkatkan pertumbuhan usaha dari food service/food retail. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)