Memahami Peranan dan Fungsi Terkait dengan Business Development

Di dalam struktur organisasi, beberapa perusahaan menetapkan fungsi dan peranan terkait dengan Business Development. Pengelolaan yang terkait dengan Business Development menjadi bagian penting dan strategis untuk memastikan keberlanjutan dari perusahaan. Apabila perusahaan ingin melakukan pengembangan organisasi serta memiliki divisi yang terkait dengan fungsi Business Development, berikut ini adalah gambaran yang terkait dengan peranan dan fungsi yang terkait dengan Business Development.

Fungsi Business Development dalam perusahaan dapat berjalan seiring dengan kebijakan yang tepat serta tata laksana perusahaan yang efektif. Salah satunya adalah dengan adanya kajian organisasi serta pengembangan sistem yang tepat dan optimal. Ada baiknya perusahaan memastikan bahwa pengelolaan organisasi dapat dijalankan dengan tepat agar mencapai pertumbuhan organisasi yang tepat. Lakukan proses pencarian konsultan sistem yang tepat untuk mengelola organisasi yang efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan PPIC dalam Program Efisiensi

Di dalam perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing, perusahaan harus dapat memastikan bahwa program efisiensi dijalankan dengan tepat. Proses pengelolaan efisiensi dijalankan oleh segenap elemen yang ada dalam organisasi. Salah satunya adalah PPIC yang dimana menjalankan program efisiensi dengan tepat.

Lalu bagaimana PPIC menjalankan peranannya untuk melakukan program efisiensi? Berikut ini adalah tahapan yang terkait dengan program efisiensi.

Berikut adalah detail penjelasan yang dimaksud terkait dengan pengembangan fungsi PPIC dalam program efisiensi.

(1) Mengendalikan Inventory

PPIC memiliki fungsi untuk menjaga inventory agar konsumsi dari kebutuhan produksi terjaga. Tidak terdapat kondisi stock yang berlebihan (overstock) ataupun stock yang berkurang. Perhitungan atas kapasitas ini dilakukan dengan menyesuaikan dengan jalur penjualan serta perencanaan produksi.

(2) Melakukan Screening Pembelian

Mengendalikan status pembelian yang dilakukan oleh perusahaan. Dimana proses pembelian yang dijalankan harus disesuaikan dengan budget yang ditetapkan. Tidak terdapat proses pembelian yang berlebihan di luar konsumsi yang dibutuhkan selain itu juga menyesuaikan dengan kapasitas dari stock gudang serta kapasitas produksi.

(3) Merealisasikan Target Pengiriman Barang ke Pelanggan dengan Tepat

Menjalankan pengawasan yang terkait dengan realisasi produksi sampai dengan merealisasikan pengiriman barang secara tepat waktu dan tepat kuantitas. Memastikan bahwa antrian atas order dapat berjalan dengan tepat.

(4) Mengendalikan Budget

Melakukan proses pengendalian terkait dengan anggaran yang dipergunakan untuk kegiatan produksi. Dimana budget yang ditetapkan tersebut dikendalikan secara tepat dan efisien sesuai dengan kapasitas produksi, kebutuhan material serta pengendalian variabel lain yang berhubungan dengan proses operasional manufacturing, termasuk di dalamnya adalah kegiatan pemeliharaan/maintenance mesin dan infrastruktur.

(5) Akurasi Laporan

PPIC melakukan fungsi untuk melakukan verifikasi yang tepat terhadap data pelaporan. Melakukan pemeriksaan atas data administrasi dengan data lapangan. Apabila ditemukan adanya penyimpangan, maka dilakukan proses koreksi atas laporan.

(6) Pengendalian Supply Chain

Pengelolaan terkait dengan alir pasokan atas material sampai dengan logistik menjadi bagian penting untuk dilakukan pemastian bahwa pengendalian atas alir supply chain tersebut dijalankan dengan tepat dan seefisien mungin.

Penanganan atas efisiensi perusahaan saat ini adalah salah satu strategi penting yang dapat dijalankan oleh perusahaan, termasuk di dalamnya adalah perusahaan yang bergerak di sektor manufacturing. Untuk dapat memaksimalkan program, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat dalam proses pengendalian program yang dimaksud. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengimplementasikan FSSC Code of Conduct

Selain persyaratan keamanan pangan, dalam skema FSSC (Food Safety System Certification) Versi 7 tidak hanya terkait dengan persyaratan mutu dan keamanan pangan saja. Namun juga berhubungan dengan persyaratan Code of Conduct Etika Bisnis. Adapun nilai-nilai dari Code of Conduct terperinci sebagai berikut.

Dari nilai-nilai yang dimaksud, perusahaan wajib mengimplementasikan secara tepat. Berikut ini adalah tahapan dalam proses implementasi yang dapat dijalankan oleh perusahaan.

(1) Menyusun Kebijakan

Menjabarkan nilai-nilai yang termuat dalam Code of Conduct, dimana kebijakan tersebut berisi komitmen yang berhubungan dengan pemenuhan yang terkait dengan Code of Conduct. Kebijakan ini disusun dan dipastikan dialankan secara periodik. Penetapan atas kebjakan ini juga memastikan adanya kepatuhan terkait dengan seluruh peraturan perundangan yang ada.

(2) Melakukan Sosialisasi

Melakukan proses sosialisasi dan komunikasi atas kebijakan yang disusun tersebut. Kegiatan sosialisasi ini dipastikan dijalankan dalam bentuk komunikasi internal, seperti pelatihan, briefing ataupun bentukan komunikasi lainnya. Ada baiknya proses komunkasi ini juga disampaikan secara eksternal, untuk menyampaikan ke seluruh pihak yang terkait memenuhi nilai yang dimaksud.

(3) Melakukan Evaluasi

Proses evaluasi pelaksanaan dalam bentuk kegiatan audit yang dijalankan secara internal. Memastikan bahwa kegiatan audit ini dilakukan internal secara periodik untuk memastikan kepatuhan atas persyaratan regulasi, kebijakan serta peraturan internal perusahaan. Menjalankan identifikasi atas setiap penyimpangan untuk kemudian dilakukan tindakan perbaikan atas temuan yang dimaksud.

(4) Membuat Jalur Aduan

Membuat jalur aduan dalam bentuk kotak saran ataupun jalur komunikasi elektronik bisa dikemabgkan sebagai bentuk jalur aduan apabila terdapat pelanggaran yang berhubungan dengan pelaksanaan Code of Conduct. Perusahaan harus memastikan setiap aduan dilakukan tindak lanjut.

Penerapan atas implementasi FSSC Code of Conduct wajib untuk dijalankan oleh perusahaan yang mengikuti skema sertifikasi FSSC. Lakukan proses implementasi dengan tepat di dalam perusahaan dengan pendampingan konsultan yang berpengalaman. Penggunaan referensi eksternal yang tepat dapat membantu pengembangan dan implementasi sistem yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Pelatihan HACCP untuk SPPG

Dalam penerapan program MBG (Makan Bergizi Gratis), SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dipastikan menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, yaitu HACCP selain itu juga menetapkan sertifikat terkait dengan HACCP. Pelatihan HACCP untuk SPPG ini tidak dapat digabungkan dengan dengan pelatihan HACCP sesuai dengan standar dan persyaratan Codex 1-1969 Revisi 2022.

Untuk dapat menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), pengelolaan yang terkait dengan SPPG itu harus dipastikan sesuai dengan persyaratan HACCP. Berikut ini adalah pelatihan HACCP yang dapat diikut oleh unit SPPG. Berikut ini adalah ilustrasi yang terkait dengan pelatihan terkait dengan SPPG.

Pelatihan HACCP yang dijalankan pada SPPG memiliki tujuan agar unit SPPG dapat menjalankan fungsi dari jaminan keamanan pangan. Dimana setiap potensi yang terkait bahaya keamanan pangan harus dapat dikendalikan pada setiap tahapan proses. Penetapan atas standar dan persyaratan yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:

(1) Pemahaman terkait dengan PRP (Pre Requisite Program)

Dimana unit SPPG memahami persyaratan PRP yang ditetapkan untuk pengelolaan katering. Bagaimana perusahaan harus menetapkan lay out area proses, memilih peralatan, menjalankan proses sanitasi, pest control, personal hygiene serta persyaratan lainnya. PRP adalah program dasar yang harus dijalankan untuk memastikan bahwa setiap resiko keamanan pangan dapat dikendalikan dengan tepat.

(2) Penetapan Tahapan Penyusunan HACCP

Memastikan bahwa penyusunan HACPP dilakukan dengan sebelumnya dilakukan pembentukan tim HACCP. Proses penyusunan HACCP itu dilakukan oleh tim untuk memastikan bahwa status pengendalian dapat dilakukan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan dan dirancang sesuai dengan validasi dan verifikasi.

(3) Teknik Implementasi

Menginformasikan tata cara terkait dengan mekanisme proses implementasi yang dijalankan. Bagaimana pelaksanaan operasional dilakukan dengan tepat dan terstruktur. Serta memastikan bahwa kesadaran terkait dengan keamanan pangan berjalan di dalam organisasi.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan penerapan dari persyaratan keamanan pangan. Dengan mempergunakan jasa konsultan yang berpengalaman secara otomatis dapat membantu proses penyusunan dokumen serta implementasi dari keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Meningkatkan Kinerja Penjualan

Dalam pengelolaan bisnis, kinerja penjualan menjadi bagian penting yang menjadi fokus dari pertumbuhan bisnis. Proses peningkatan penjualan bukan hanya menjadi tanggung jawab dari tenaga sales semata, terdapat peranan strategi di belakang layar yang memberikan pengaruh terhadap peningkatan penjualan itu sendiri.

Berikut ini adalah ilustrasi yang terkait dengan sinergi penjualan antara tim marketing dan tim sales.

Penyusunan sistem penjualan yang tepat dan terstruktur dapat membantu untuk mencapai target penjualan yang diharapkan. Evaluasi atas kinerja dijalankan untuk dapat mengakomodasi perubahan yang dinamis di pasar. Tindak lanjut serta perbaikan aas sistem dijalankan secara sistematis untuk dapat memastikan bahwa sistem penjualan yang dilakukan adalah tepat untuk dijalankan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal dalam proses penetapan sistem penjualan serta memastikan pencapaian target terpenuhi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Meningkatkan Kepuasan Pelanggan Melalui ISO 9001

Banyak perusahaan/organisasi melihat bahwa sertifikasi yang terkait dengan ISO 9001 adalah untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001, namun perusahaan melupakan betapa penting dampak dan manfaat dari implementasi ISO 9001. Proses pelaksanaan yang terkait dengan implementasi yang terkait dengan ISO 9001 berjalan dengan efektif. Lalu bagaimana ISO 9001 itu sendiri dapat dipergunakan untuk pengingkatan kepuasan pelanggan. Berikut ini adalah gambaran terkait dengan peningkatan yang dimaksud.

(1) Komitmen

Dalam Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, mulai dari kebijakan yang ditetapkan dari senior manajemen telah menjelaskan dengan gambang bahwa perusahaan/organisasi secara terus menerus selalu berupaya untuk dapat memenuhi kepuasan pelanggan. Komitmen ini ditetapkan menjadi nilai yang terukur yaitu dalam bentuk target dan sasaran yang terkait dengan perbaikan proses, pengembangan produk serta pendekatan proses dengan pelanggan.

(2) Peluang dan Resiko

Mempergunakan atribut pelanggan ke dalam kalkulasi yang yang berhubungan dengan identifikasi atas resiko dan peluang baik yang dijalankan dalam perusahaan juga yang masuk ke dalam departemen/ bagian terkait. Proses penetapan atas resiko dan peluang ini yang kemudian ditetapkan sebagai bentuk desain sistem manajemen mutu.

(3) Fokus Pelanggan

Dalam menyusun dan mendesain sistem, pendekatan proses yang dijalankan berdasarkan pada aspek pelanggan. Dimana aspek atas penetapan yang dimaksud dipastikan terdefinisikan sesuai dengan harapan dan kepentingan dari pelanggan. Mempelajari hal penting yang menjadi prioritas, menetapan perencanaan sistem serta program/ tindakan yang dijalankan untuk mencapai target pelanggan yang diharapkan oleh pelanggan tersebut.

(4) Penetapan Umpan Balik Pelanggan

Untuk dapat memastikan sistem, proses serta produk dapat diterima dengan baik oleh peanggan, perusahaan/organisasi melakukan evaluasi yang terkait dengan informasi/data umpan balik pelanggan. Proses evaluasi ini kemudian dilanjutkan dengan menetapkan tindak lanjut yang terkait sesuai dengan sistem.

(5) Mengembangkan Produk dan Inovasi Pelanggan

Proses pengembangan produk dan pelayanan kepada pelanggan diidenifikasi berdasarkan pada data umpan balik pelanggan. Hal ini termasuk di dalamnya adalah memastkan bahwa sistem yang dikembangkan adalah sesuai dengan harapan. Melakukan perbaikan apabila adanya penyimpagan ataupun kekurangan pada produk. Inovasi ini harus selalu dijalankan secara terus menerus apabila pengembangan produk membutuhkan perbaikan sesuai dengan hasil riset ataupun kebutuhan pelanggan.

Untuk dapat memaksimalkan implementasi yang terkait dengan pelaksanaan ISO 9001, perusahaan diharapkan melakukan proses pengembangan sistem yang tepat. Penggunaan referensi eksternal dapat dijalankan agar dapat mengoptimalkan penetapan Sistem ISO 9001 yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Temuan Audit FSSC yang Seringkali Muncul pada Industri Kemasan

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat dijalankan salah satunya melalui proses sertifikasi FSSC (Food Safety System Certification) . Persyaratan ini tidak hanya diaplikasikan pada industri pangan saja, namun juga pada industri kemasan. Namun, dalam pelaksanaan FSSC, seringkali ditemukan adanya ketidaksesuaian yang seringkali muncul pada kegiatan audit (baik internal maupun eksternal) yang dijalankan pada industri kemasan.

Berikut ini adalah temuan audit FSSC yang seringkali muncul pada industri kemasan. Hal ini dapat dipelajari untuk mencegah adanya implementasi yang tidak tepat.

Untuk dapat meningkatkan proses implementasi, lakukan perbaikan dari proses pembelajaran yang muncul untuk temuan audit. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat melakukan proses implementasi FSSC di dalam perusahaan, termasuk di dalamnya adalah industri pangan maupun industri kemasan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengimplementasikan 5 R Secara Tepat dalam Perusahaan

Pelaksanaan 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) adalah salah satu pengembangan budaya positif dalam meningkatkan profesionalisme di dalam perusahaan. Mengimplementasikan 5 R itu sendiri tidak hanya dijalankan dengan membuat slogan atau informasi yang disampaikan kepada karyawan. Sangat diperlukan pendekatan yang sistematis dan terstruktur untuk memastikan budaya 5 R itu sendiri.

Lalu bagaimana cara mengimplementasikan 5 R dengan tepat di dalam perusahaan? Berikut ini adalah langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

Perusahaan harus memastikan bahwa budaya 5 R dapat memberikan manfaat yang positif dalam organisasi/perusahaan. Menjalankan dengan tepat dapat dilakukan dengan mempergunakan referensi eksternal yang berpengalaman dalam menjalankan implementasi budaya 5 R (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengelola Allergen dengan Tepat pada Industri Pangan

Dalam persyaratan Codex Versi 2022 terkait dengan bahaya pangan, allergen menjadi salah satu potensi atas bahaya yang perlu untuk dikendalikan pada industri pangan. Untuk dapat mengelola allergen itu sendiri di dalam industri pangan, terdapat beberapa langkah yang perlu untuk dijalankan.

Berikut ini adalah tahapan proses yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menjalankan proses pengendalian allergen.

Ada baiknya perusahaan menjalankan seluruh pengendalian secara terdokumentasi serta dilengkapi dengan bukti implementasinya. Penggunaan konsultan yang telah berpengalaman di dalam industri pangan, dapat membantu perusahaan dalam menjalankan proses pengendalian allergen yang dimaksud. (Amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan Konsultan Dalam Mengembangkan ISO 37001:2025

Penerapan terkait dengn Sistem Manajemen Anti Korupsi dengan mengunakan pendekatan ISO 37001:2025. Lalu bagaimana proses penerapan konsultan yang berhubungan dengan Sistem Manajemen Anti Korupsi ISO 37001:2025? Berikut adalah penerapan yang terkait dengan konsultan dalam mengembangkan ISO 37001:2025.

Dari peranan yang dimaksud, perusahaan dapat melakukan proses pelaksanaan ISO 37001:2025 dengan tepat dan terstruktur. Lakukan proses pengembangan sistem yang tepat terkait dnegan manajemen anti korupsi di perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)