Saat ini telah dilakukan proses penerbitan standar baru PAS 96:2026 terkait Food defence – Protection and prevention from deliberate acts –Guide. Dimana melalui penerbitan standar yang dimaksud, perusahaan diminta untuk melakukan kajian dan pengkinian atas penyusunan TACCP sesuai dengan standar PAS 96:2026.
Sebelum melakukan kajian lebih lanjut, ada baiknya perusahaan melihat prinsip PDCA dalam menyusun TACCP. Berikut ini adalah prinsip PDCA yang dimaksud.
Dengan mempergunakan prinsip PDCA, perusahaan dapat menyusun dokumen TACCP yang tepat. Referensi eksternal dapat membantu perusahaan dalam menyusun TACCP yang tepat. Lakukan penggunaan konsultan yang berpengalaman dalam penyusunan TACCP dalam memenuhi standar persyaratan keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Di dalam perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing, perusahaan harus dapat memastikan bahwa program efisiensi dijalankan dengan tepat. Proses pengelolaan efisiensi dijalankan oleh segenap elemen yang ada dalam organisasi. Salah satunya adalah PPIC yang dimana menjalankan program efisiensi dengan tepat.
Lalu bagaimana PPIC menjalankan peranannya untuk melakukan program efisiensi? Berikut ini adalah tahapan yang terkait dengan program efisiensi.
Berikut adalah detail penjelasan yang dimaksud terkait dengan pengembangan fungsi PPIC dalam program efisiensi.
(1) Mengendalikan Inventory
PPIC memiliki fungsi untuk menjaga inventory agar konsumsi dari kebutuhan produksi terjaga. Tidak terdapat kondisi stock yang berlebihan (overstock) ataupun stock yang berkurang. Perhitungan atas kapasitas ini dilakukan dengan menyesuaikan dengan jalur penjualan serta perencanaan produksi.
(2) Melakukan Screening Pembelian
Mengendalikan status pembelian yang dilakukan oleh perusahaan. Dimana proses pembelian yang dijalankan harus disesuaikan dengan budget yang ditetapkan. Tidak terdapat proses pembelian yang berlebihan di luar konsumsi yang dibutuhkan selain itu juga menyesuaikan dengan kapasitas dari stock gudang serta kapasitas produksi.
(3) Merealisasikan Target Pengiriman Barang ke Pelanggan dengan Tepat
Menjalankan pengawasan yang terkait dengan realisasi produksi sampai dengan merealisasikan pengiriman barang secara tepat waktu dan tepat kuantitas. Memastikan bahwa antrian atas order dapat berjalan dengan tepat.
(4) Mengendalikan Budget
Melakukan proses pengendalian terkait dengan anggaran yang dipergunakan untuk kegiatan produksi. Dimana budget yang ditetapkan tersebut dikendalikan secara tepat dan efisien sesuai dengan kapasitas produksi, kebutuhan material serta pengendalian variabel lain yang berhubungan dengan proses operasional manufacturing, termasuk di dalamnya adalah kegiatan pemeliharaan/maintenance mesin dan infrastruktur.
(5) Akurasi Laporan
PPIC melakukan fungsi untuk melakukan verifikasi yang tepat terhadap data pelaporan. Melakukan pemeriksaan atas data administrasi dengan data lapangan. Apabila ditemukan adanya penyimpangan, maka dilakukan proses koreksi atas laporan.
(6) Pengendalian Supply Chain
Pengelolaan terkait dengan alir pasokan atas material sampai dengan logistik menjadi bagian penting untuk dilakukan pemastian bahwa pengendalian atas alir supply chain tersebut dijalankan dengan tepat dan seefisien mungin.
Penanganan atas efisiensi perusahaan saat ini adalah salah satu strategi penting yang dapat dijalankan oleh perusahaan, termasuk di dalamnya adalah perusahaan yang bergerak di sektor manufacturing. Untuk dapat memaksimalkan program, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat dalam proses pengendalian program yang dimaksud. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Banyak perusahaan/organisasi melihat bahwa sertifikasi yang terkait dengan ISO 9001 adalah untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001, namun perusahaan melupakan betapa penting dampak dan manfaat dari implementasi ISO 9001. Proses pelaksanaan yang terkait dengan implementasi yang terkait dengan ISO 9001 berjalan dengan efektif. Lalu bagaimana ISO 9001 itu sendiri dapat dipergunakan untuk pengingkatan kepuasan pelanggan. Berikut ini adalah gambaran terkait dengan peningkatan yang dimaksud.
(1) Komitmen
Dalam Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, mulai dari kebijakan yang ditetapkan dari senior manajemen telah menjelaskan dengan gambang bahwa perusahaan/organisasi secara terus menerus selalu berupaya untuk dapat memenuhi kepuasan pelanggan. Komitmen ini ditetapkan menjadi nilai yang terukur yaitu dalam bentuk target dan sasaran yang terkait dengan perbaikan proses, pengembangan produk serta pendekatan proses dengan pelanggan.
(2) Peluang dan Resiko
Mempergunakan atribut pelanggan ke dalam kalkulasi yang yang berhubungan dengan identifikasi atas resiko dan peluang baik yang dijalankan dalam perusahaan juga yang masuk ke dalam departemen/ bagian terkait. Proses penetapan atas resiko dan peluang ini yang kemudian ditetapkan sebagai bentuk desain sistem manajemen mutu.
(3) Fokus Pelanggan
Dalam menyusun dan mendesain sistem, pendekatan proses yang dijalankan berdasarkan pada aspek pelanggan. Dimana aspek atas penetapan yang dimaksud dipastikan terdefinisikan sesuai dengan harapan dan kepentingan dari pelanggan. Mempelajari hal penting yang menjadi prioritas, menetapan perencanaan sistem serta program/ tindakan yang dijalankan untuk mencapai target pelanggan yang diharapkan oleh pelanggan tersebut.
(4) Penetapan Umpan Balik Pelanggan
Untuk dapat memastikan sistem, proses serta produk dapat diterima dengan baik oleh peanggan, perusahaan/organisasi melakukan evaluasi yang terkait dengan informasi/data umpan balik pelanggan. Proses evaluasi ini kemudian dilanjutkan dengan menetapkan tindak lanjut yang terkait sesuai dengan sistem.
(5) Mengembangkan Produk dan Inovasi Pelanggan
Proses pengembangan produk dan pelayanan kepada pelanggan diidenifikasi berdasarkan pada data umpan balik pelanggan. Hal ini termasuk di dalamnya adalah memastkan bahwa sistem yang dikembangkan adalah sesuai dengan harapan. Melakukan perbaikan apabila adanya penyimpagan ataupun kekurangan pada produk. Inovasi ini harus selalu dijalankan secara terus menerus apabila pengembangan produk membutuhkan perbaikan sesuai dengan hasil riset ataupun kebutuhan pelanggan.
Untuk dapat memaksimalkan implementasi yang terkait dengan pelaksanaan ISO 9001, perusahaan diharapkan melakukan proses pengembangan sistem yang tepat. Penggunaan referensi eksternal dapat dijalankan agar dapat mengoptimalkan penetapan Sistem ISO 9001 yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Setiap perusahaan berupaya untuk memiliki sistem remunerasi yang tepat dan mendukung produktifitas. Dalam pelaksanannya, seringkali muncul pertanyaan terkait dengan sistem remunerasi yang menjadi bagian penting dalam menyusun sistem remunerasi yang tepat dan efektif. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, berikut ini adalah resume terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud.
Dalam menyusun sistem remunerasi, pastikan seluruh informasi yang diperlukan berasal dari sumber yang tepat. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat menyusun sistem remunerasi di perusahaan dengan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Lembaga pendidikan adalah organisasi yang dikembangkan berbasiskan pelayanan. Seperti halnya bidang pelayanan lainnya, sistem remunerasi yang terbentuk sangat penting untuk meningkatkan produktifitas. Produktifitas yang dimaksud bukan hanyak kuantitas, namun juga terkait dengan kualitas. Penyusunan atas remunerasi pada lembaga pendidikan sangat sensitif untuk didesain agar tidak menimbulkan konflik dan turunnya kualitas pekerjaan yang berdampak kepada output dari organisasi.
Untuk dapat mendesain sistem remunerasi yang tepat pada lembaga pendidikan, berikut ini adalah tahapan yang dapat dilakukan oleh organisasi.
Agar dapat menjalankan proses penyusunan sistem remunerasi yang tepat, konsultan dapat membantu dan berperan dalam menyusun sistem remunerasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang berpengalaman dan tepat dalam menyusun sistem remunerasi di dalam organisasi. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Pelaksanaan 5 R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) adalah salah satu pengembangan budaya positif dalam meningkatkan profesionalisme di dalam perusahaan. Mengimplementasikan 5 R itu sendiri tidak hanya dijalankan dengan membuat slogan atau informasi yang disampaikan kepada karyawan. Sangat diperlukan pendekatan yang sistematis dan terstruktur untuk memastikan budaya 5 R itu sendiri.
Lalu bagaimana cara mengimplementasikan 5 R dengan tepat di dalam perusahaan? Berikut ini adalah langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.
Perusahaan harus memastikan bahwa budaya 5 R dapat memberikan manfaat yang positif dalam organisasi/perusahaan. Menjalankan dengan tepat dapat dilakukan dengan mempergunakan referensi eksternal yang berpengalaman dalam menjalankan implementasi budaya 5 R (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Penerapan terkait dengn Sistem Manajemen Anti Korupsi dengan mengunakan pendekatan ISO 37001:2025. Lalu bagaimana proses penerapan konsultan yang berhubungan dengan Sistem Manajemen Anti Korupsi ISO 37001:2025? Berikut adalah penerapan yang terkait dengan konsultan dalam mengembangkan ISO 37001:2025.
Dari peranan yang dimaksud, perusahaan dapat melakukan proses pelaksanaan ISO 37001:2025 dengan tepat dan terstruktur. Lakukan proses pengembangan sistem yang tepat terkait dnegan manajemen anti korupsi di perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Industri kemasan pangan menjadi bagian penting dalam rantai pasokan pangan. Melihat dari peranannya, posisi dari industri kemasan pangan menjadi aspek penting yang perlu ditangani dengan tepat. Dalam penerapan keamanan pangan, pelaksanaan audit GMP (Good Manufacturing Practice) dijalankan sebagai bentuk evaluasi terkait dengan efektifitas sistem. Pelaksanaan GMP sendiri dalam industri kemasan pangan dijalankan untuk menyesuaikan dengan resiko produk itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa temuan audit GMP yang perlu menjadi kajian pada industri kemasan pangan.
Mempertimbangkan temuan yang dimaksud, akan menjadi salah satu bentuk pembelajaran agar pengembangan yang terkait dengan penerapan GMP. Lakukan proses pengembangan yang terkait dengan implementasi GMP pada industri kemasan pangan agar pelaksanaan menjadi efektif, perusahaan dapat mempergunakan referensi eksternal yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Pelaksana dari katering MBG (Makan Bergizi Gratis) menjalankan pelaksanaan pengolahan pangan katering yang bersifat kontinyu dan massif. Melihat pada pertimbangan tersebut, kebutuhan untuk menjalankan keamanan pangan menjadi sistem yang diaplikasikan. Namun, mempertimbangkan bahwa beberapa pelaksana dari kegiatan MBG banyak didominasi oleh pelaku usaha kecil dan menengah. Tahapan praktis awal dapat dipergunakan sebagai bentuk proses pelaksanaan keamanan pangan pada katering MBG. Berikut ini adalah tahapan yang dapat dijalankan oleh pelaku usaha yang dimaksud.
Untuk dapat menjalankan sistem yang tepat, penerapan keamanan pangan perlu diaplikasikan dengan tepat dengan mempertimbangkan skala usaha yang tepat dengan mempertimbangkan atas resiko yan terkait dengan kualitas dan keamanan pangan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan pelaksanaan yang terkait dengan keamanan pangan pada program MBG. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Bagi pelaku dunia food service/katering, penyusunan HACCP Manual menjadi hal yang terkadang rumit dan sulit untuk dijalankan. Hal ini tentu saja menjadi hambatan apabila akan melakukan peningkatan sistem dan mengimplementasikan manajemen keamanan pangan.
Berikut ini adalah 6 langkah praktis yang dapat dijalankan setiap pelaku sektor food service/katering dalam menyusun HACCP Manual.
Selain langkah yang dimaksud, ada baiknya pelaku sektor katering/food service melakukan kajian atas referensi yang berhubungan dengan Codex HACCP CXC 1-1969 versi 2022. Dengan mempergunakan referensi eksternal, dapat dipastikan proses penyusunan dokumen dan implementasi dalam penyediaan makanan untuk katering dan food service dapat berjalan dengan maksimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)