Penyebab Kegagalan ISO 9001

Penerapan atas ISO 9001 di banyak perusahaan lebih banyak beroritentasi untuk mendapatkan Sertifikat ISO 9001. Walaupun sebenarnya, ISO 9001 itu sendiri memiliki banyak manfaat bagi perusahaan. Manfaat itu sendiri dapat meningkatkan pertumbuhan organisasi/perusahaan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari sertifikasi ISO 9001, ada baiknya perusahaan memahami beberapa hal yang menyebabkan kegagalan ISO 9001. Dengan tujuan proses penanganan selanjutnya bisa mengantisipasi kegagalan yang muncul.

Untuk dapat memanfaatkan ISO 9001 dalam perusahaan, ada baiknya perusahaan melakukan pengkajian atas penerapan ISO 9001 yang telah dijalankan. Lakukan identifikasi penyimpangan ataupun kekurangan yang muncul dalam penerapan yang telah dijalankan, perbaikan dilakukan sesuai dengan identifikasi yang telah dijalankan tersebut. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Melakukan Pengelolaan Pekerja Paruh Waktu

Dalam beberapa hal, perusahaan membutuhkan keberadaan atas pekerja paruh waktu. Pekerja ini biasanya dipekerjakan lebih disebabkan adanya kebutuhan skill khusus yang diperlukan dalam suatu pekerjaan yang bersifat jangka pendek atau bukan core business dari perusahaan. Terdapat beberapa hal penting yang perlu untuk diperhatikan. Berikut ini adalah gambaran bagaimana perusahaan menjalankan proses pengelolaan atas pekerja paruh waktu.

Bagaimana perusahaan menjalankan pengelolaan atas pekerja paruh waktu, harus dipastikan bahwa setiap pengelolaan yang dijalankan adalah tepat dan efektif untuk memastikan bahwa pengendalian dan penanganan atas pekerja dijalankan dengan tepat. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam perusahaan untuk pengelolaan sumber daya manusia yang dijalankan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengembangkan Pelatihan Implementasi ISO 9001

Proses sertifikasi ISO 9001 menjadi bagian penting dijalankan bagi perusahaan yang akan meningkatkan kualitas kinerja organisasinya. Namun tidak sedikit perusaaan mengalami hambatan yang terkait dengan proses implementasi ISO 9001. Untuk dapat meningkatkan proses implementasi ISO 9001, berikut ini adalah beberapa pelatihan yang perlu dikembangkan oleh perusahaan terkait dengan proses implementasi yang dimaksud.

(1) Pelatihan Internal Audit ISO 9001

Pelatihan ini ditujukan untuk menetapkan kompetensi terkait dengan internal auditor. Tentu saja internal auditor yang dimaksudkan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi dari internal auditor serta bagaimana personel yang dimaksud mampu untuk menjalankan kegiatan internal audit. Secara prinsip pelatihan internal audit dapat memberikan dasar pada organisasi terkait dengan kemampuan untuk menjadi internal auditor, mulai dari menyusun perenencanaan audit, teknik dan kemampuan untuk melakukan audit serta kemampuan untuk membuat laporan yang terkait dengan kegiatan internal audit.

(2) Pelatihan Manajemen Kinerja

Dalam penerapan ISO 9001, terdapat siklus PDCA (Plan, Do, Check and Action), perencanaan yang ditetapkan adalah target dari perusahaan. Target ini menurut ISO 9001 adalah Sasaran Mutu yang merupakan penjabaran dari Kebijakan Mutu perusahaan. Salah satu pelatihan yang dapat dilakukan adalah pelatihan KPI (Key Performance Indicator) dimana dalam pelatihan ini perusahaan mendapatkan penjelasan terkait dengan bagaimana target perusahaan tercapai.

(3) Pelatihan Pengelolaan Resiko

Perusahaan diminta untuk mengenali resiko-resiko yang terkait dengan organisasi/ perusahaan. Setiap unit kerja yang ada di dalam perusahaan diminta untuk mengenali resiko yang ada untuk kemudian melakukan pengendalian atas resiko yang dimaksud.

(4) Pelatihan Pengendalian Dokumen dan Catatan

Pelatihan ini bertujuan untuk dapat mendukung perusahaan terkait dengan penyusunan dokumen, proses penetapan identifikasi, proses kajian dan evaluasi serta pemusnahan dokumen. Satu hal yang wajib diketahui adalah bahwa dokumen ini merupakan wujud komitmen dari implementasi Sistem Manajemen Mutu.

(5) Pelatihan Penanganan dan Pelayanan Pelanggan

Tujuan paling utama dari implementasi Sistem Manajemen Mutu adalah bagaimana penanganan serta pengendalian yang terkait pelanggan dapat memenuhi kebutuhan dan standar keberterimaan pelanggan. Dalam pelatihan ini, perusahaan diajarkan untuk membentuk spesifikasi mutu dari kebutuhan pelanggan serta bagaimana setiap unit kerja memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan.

(6) Pelatihan Quality Improvement Tools

Pelatihan yang memberikan arahan serta pendekatan teknis terkait dengan metode perbaikan yang dapat dilakukan pada organisasi/ perusahaan. Pendekatan ini dapat dijalankan dengan beberapa jenis pelatihan seperti QCC, Six Sigma, Kaizen, ataupun Quality Deployment Program.

Dengan melihat pelatihan yang terkait dengan implementasi ISO 9002, sepertinya langkah pengembangan atas ISO 9002 dapat memberikan dampak yang besar bagi perusahaan/organisasi. Perusahaan/organisasi dapat selalu mengembangkan Sistem Manajemen Mutu sebagai teknik untuk peningkatan pertumbuhan bisnis. Untuk dapat menghasilkan output terbaik, tidak ada salahnya perusahaan mempergunakan referensi eksternal yang tepat terkait dengan pelaksanaan ISO 9001. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Manfaat Perusahaan Menjalankan ISO 37001

Penerapan ISO 37001 sebaiknya dijalankan dengan tepat dan serius sebagai upaya pemastian komitmen yang terkait dengan anti korupsi dan penyuapan di dalam perusahaan. Hal ini dilihat bukan hanya sebagai upaya untuk sertifikasi saja, namun juga sebagai upaya untuk meningkatkan manfaat internal dan eksternal perusahaan.

Berikut ini adalah ilustrasi yang terkait dengan manfaat perusahaan dalam mengimplementasikan ISO 37001.

Untuk dapat mempertegas komitmen ini, perusahaan ada baiknya mengembangkan sistem yang tepat dan menjalankan secara efektif persyaratan yang termuat di dalam ISO 37001:2025. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk pengembangan sistem pada perusahaan dan organisasi agar mendapatkan hasil yang optimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Cara Mengembangkan Pelatihan yang Efektif dalam Perusahaan

Pelatihan adalah salah satu proses yang dijalankan untuk mengembangkan kompetensi dan kinerja sumber daya manusia di dalam perusahaan. Namun tidak sedikit perusahaan mengalami permasalahan pelatihan yang tidak berjalan dengan efektif meskipun kegiatan pelatihan tersebut sudah sering dijalankan. Hal ini bisa disebabkan karena pelatihan yang dikembangkan tidak melalui perencanaan yang maksimal. Untuk dapat memaksimalkan hasil pelatihan, berikut ini adalah ilustrasi terkait dengan cara mengembangkan pelatihan yang efektif dalam perusahaan.

Perusahaan dapat menjalankan perencanaan yang dijelaskan pada ilustrasi tersebut untuk mendapatkan pelatihan yang tepat dan efektif. Penggunaan referensi eksternal dapat membantu perusahaan untuk merencanakan pelatihan yang efektif dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Bagaimana Mengelola Kemitraan Retail Pangan yang Tepat

Saat ini banyak bermunculan kemitraan retail yang terkait dengan jasa penyediaan layanan pangan (food service), pengembangan atas sektor ini juga meningkatkan pola kemitraan pada sektor ini. Namun tidak sedikit pelaku bisnis melakukan proses pengembangan kemitraan dengan cara yang kurang tepat sehingga menyebabkan permasalahan yang seringkali kritikal untuk bisnis itu sendiri. Lalu bagaimana menjalankan kemitraan yang tepat dijalankan untuk layanan pangan (food service) itu sendiri? Berikut adalah tahapan yang dapat dilakukan oleh pemilik usaha.

(1) Menjaga dan Mengelola Merk Produk

Ketika pemilik usaha akan menjalankan proses kemitraan, maka yang harus dipastikan adalah menjaga dan mengelola merk. Menjaga merk dilakukan dengan memastikan adanya proteksi hukum dimana perusahaan harus memastikan bahwa perlindungan atas kekayaan intelektual untuk memastikan bahwa merk yang dimiliki oleh perusahaan terjaga.

(2) Menetapan Organisasi Perusahaan

Memastikan bahwa organisasi perusahaan pendukung layanan pangan terlengkapi dengan tepat, termasuk di dalamnya adalah fungsi pelayanan utama dan pelayanan pendukung. Penetapan organisasi tersebut harus diikuti dengan proses pembuatan uraian jabatan pada struktur organisasi yang dimaksud. Uraian jabatan harus disesuaikan dengan rancangan business process yang ada dalam organisasi. Semakin detail business process yang dibuat maka akan semakin jelas uraian jabatan yang disusun dalam organisasi.

(3) Melakukan Proses Penyusunan SOP

Melakukan proses penetapan Standard Operating Procedure berdasarkan pada business process yang telah tersusun tersebut. Termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa SOP (Standard Operating Procedure) yang didesain sesuai dengan Business Process yang dimaksud. Termasuk adalah bagaimana proses penetapan atas format pelaporan dan verifikasi pekerjaan. Standard Operating Procedure harus dipisahkan antara SOP yang dibuat oleh perusahaan dan SOP yang akan dijalankan oleh pihak mitra. SOP internal adalah SOP yang terkait dengan strategi perusahaan, pengaturan proses internal seperti pengendalian pemasok, proses rekruitmen ataupun SOP yang berhubungan dengan keuangan. Sedangkan SOP eksternal adalah SOP terkait dengan preparasi produk dan pelayanan yang terkait dengan pelanggan.

Bagaimana melakukan proses pengembangan kemitraan yang tepat? Lakukan proses pengelolaan dan pengendalian yang efektif agar perkembangan sistem kemitraan bisa memberikan pertimbuhan bisnis yang pesat dalam organisasi. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk pengembangan perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Mengelola Merk Perusahaan dengan Tepat

Tidak jarang perusahaan melupakan betapan pentingnya merk perusahaan untuk dapat dijaga. Namun, tidak sedikit perusahaan mengalami kesulitan dalam mengelolaan merk perusahaan dengan tepat. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri karena pengelolaan yang tidak tepat tersebut dapat memberikan dampak yang merugikan perusahaan.

Lalu bagaimana perusahaan sebaiknya mengelola merk perusahaan mereka.

(1) Menetapkan filosofi dari merk perusahaan

Melakukan identifikasi dari karakter dan nilai apa yang akan dikembangkan dalam merk perusahaan tersebut. Penetapan atas status merk tersebut kemudian digambarkan ilustrasi terkait dengan karakteristik yang dilakukan dalam prilaku organisasi. Prilaku organisasi kemudian dapat digambarkan dengan informasi terkait dengan karakteristik prilaku yang didetailkan dan mudah dimengerti oleh karyawan.

(2) Pembinanaan dan Pengembangan Karyawan

Karyawan diharapkan dapat mengembangkan dan mengelola prilaku sesuai dengan nilai yang ada pada merk perusahaan. Bagaimana kemudian perusahaan melakukan pelatihan dan pembinaan. Pelatihan dijalankan secara struktural dimana setiap level dalam organisasi dikelola pelatihan yang berbeda sesuai dengan segmentasi dari level dalam struktur.

(3) Menjamin Pengelolaan Kualitas

Merk akan selalu terkait dengan output yang ada dalam perusahan, baik itu jasa maupun barang. Hal penting untuk menjamin bahwa kualitas output selalu konsisten bahkan meningkat. Merk akan selalu terasosiasi dengan kualitas hasil dari perusahaan. Sehingga penting bagi perusahaan memastikan bahwa kualitas sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.

Pengeloaan merk dijalankan dalam periode waktu yang cukup panjang sampai menjaga konsistensi bahwa penyampaian merk sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Penanganan yang terkait dengan pengelolaan merk harus dipastikan dengan keseriusan dan konsisten yang tinggi. Untuk menjaga keberlangsungannya, tidak ada salahnya perusahaa mempergunakan referensi eksternal sebagai pembantu dalam program pengelolaan merk. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

5 Kesalahan Perusahaan Dalam Menjalankan Program Cost Saving

Untuk meningkatkan nilai kompetitif dari bisnis, tidak ada salahnya perusahaan mempertimbangkan untuk menjalankan program Cost Saving. Penerapan terkait dengan cost saving ini terkadang menjadi hal yang berat untuk perusahaan namun dalam kondisi aktualnya adalah proses yang harus dijalankan oleh organisasi. Terdapat beberapa hal yang perlu untuk dipertimbangkan oleh perusahaan untuk dapat dihindari ketika menjalankan program cost saving. Berikut adalah beberapa hal yang perlu untuk dipertimbangkan?

(1) Perencanaan yang Tidak Lengkap

Program cost saving bukanlah proses membuang “lemak jahat” yang sebegitu sederhananya. Namun lebih melihat kepada dampak yang akan muncul. Perencanaan dilakukan dengan memastikan bahwa output proses tetap harus dengan nilai maksimal. Perencanaan juga melihat bagaimana modifikasi proses dan sistem bisa dilakukan dengan proses cost saving tersebut. Mempertimbangkan karena program ini adalah investasi yang menjadi bagian penting dalam organisasi.

(2) Memilah biaya yang tidak tepat

Dalam proses cost saving, sebaiknya perusahaan harus berhati-hati dalam memastikan cost yang akan dilakukan proses efisiensi. Karena tidak seluruh biaya dapat diefisienkan dengan mudah. Beberapa membutuhkan analisis yang mendalam untuk dapat memastikan bahwa efisiensi yang dimaksud dapat dijalankan secara optimal.

(3) Tidak Mempertimbangkan Dampak dan Resiko

Terkadang perusahaan melihat adanya suatu variabel biaya yang terlihat sangat tinggi namun tidak memiliki fungsi langsung kepada produktifitas. Hal ini bisa saja disebabkan karena komponen biaya yang dimaksud adalah komponen biaya yang dipergunakan untuk meminimalkan resiko. Melihat pada hal yang dimaksud, ada baiknya perusahaan sangat berhati-hati dalam mengelola komponen biaya tersebut.

(4) Melihat SDM sebagai cost

Beberapa perusahaan melihat bahwa cost saving dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah SDM atau mengganti SDM dengan peranan teknologi. Pengurangan atas jumlah SDM sendiri dapat dipertimbangkan sebagai pengurangan cost, apabila tidak melihat bahwa SDM adalah aset perusahaan. Menghilangkan SDM sama dengan meminimalkan asset yang ada dalam perusahaan. Hal ini apabila tidak dijalankan dengan baik, maka akan menyebabkan kerugian perusahaan.

(5) Tidak Memberikan Persepsi Positif Terkait dengan Cost Saving

Banyak perusahaan menerapkan cost saving sebagai bentuk ancaman kepada tim yang ada dalam perusahaan. Bukan sebagai tantangan untuk meningkatkan inovasi yang ada dalam perusahaan. Ancaman tidak akan memberikan motivasi yang baik kepada karyawan dan organisasi, alih-alih mendapatkan program cost saving yang terstruktur, perusahaan malah akan menemukan permasalahan besar terkait dengan mengefisienkan biaya secara tepat.

Untuk dapat meningkatkan daya saing perusahaan, penerapan strategi cost saving menjadi salah satu strategi penting yang dapat dijalankan oleh perusahaan. Terkadang penerapan yang salah dapat menyebabkan resiko dalam perusahaan. Lakukan proses penanganan atas cost saving yang tepat dalam perusahaan. Tidak ada salahnya perusahaan mempergunakan referensi eksternal untuk memaksimalkan penerapan vost saving dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Menyusun Business Continuity Plan dalam Perusahaan

Saat ini, perusahaan dituntut untuk melakukan penilaian resiko bisnis secara tepat. Dalam kondisi dengan resiko tertentu, business continuity plan harus didesain untuk memastikan bagaimana proses dijalankan. Tentu saja penyusunan business continuity plan ini adalah sangat penting, tidak hanya memastikan keberlanjutan dari supply chain management, penetapan atas business continuity plan itu sendiri menjadi bagian penting yang harus disusun oleh perusahaan.

Lalu bagaimana penetapan atas business continuity plan dijalankan dalam perusahaan? Perusahaan harus bisa memastikan bahwa business continuity plan adalah bagian penting yang menjadi strategi bagaimana perusahaan dapat bertahan dalam kondisi tersulit yang ditemukan. Konsep ini muncul sebagai bentuk komitmen untuk dapat mengkonsistenkan jalannya perusahaan meskipun resiko bisnis muncul. Berikut ini adalah tahapan yang dapat perusahaan lakukan untuk menyusun business continuity plan.

(1) Memahami resiko bisnis dengan tepat

Perusahaan diharapkan mengidentifikasi setiap resiko bisnis yang ada. Setiap resiko bisnis dilakukan penilaian untuk memastikan resiko tersebut masuk ke dalam kategori yang membutuhkan adanya penetapan sistem Business Continuity Plan. Apabila penilaian atas resiko tersebut menunjukkan bahwa resiko tersebut harus dikelola melalui Business Continuity Plan maka dipastikan penetapan Business Continuity Plan dijalankan.

(2) Menetapkan Tim Pelaksana Business Continuity Plan

Alternate system perlu untuk ditetapkan dalam memastikan bagaimana perencanaan atas keberlangsungan sistem. Melihat pada point yang dimaksud, sangat diperlukan adanya pemastian bagaimana pelaksanaan business continuity tersebut dijalankan dalam organisasi dalam bentuk penetapan tim yang kuat. Tim yang dimaksud bertanggung jawab secara penuh untuk menjalankan business continuity plan yang dimaksud.

(3) Menyusun Tahapan Busines Continuity Plan

Perusahaan diminta untuk mendesain contingency plan atas skenario-skenario yang akan muncul terkait dengan bagaimana perencanaan keberlangsungan proses dijalankan. Komunikasi dengan pihak customer/buyer dijalankan untuk memastikan bagaimana proses keberlangsungan bisnis akan secara terus-menerus berjalan.

Bagaimana dengan pelaksanaan Business Continuity Plan di perusahaan Anda? Lakukan penetapan sistem yang efektif untuk dapat memastikan bahwa perencanaan bisnis dapat berjalan secara efektif. Penyusunan SOP adalah salah satu strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengembangkan bisnis dengan tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Peranan Konsultan dalam Menyusun Sistem Penggajian Retail

Perusahaan retail saat ini sedang berhadapan dengan tantangan yang cukup besar. Bagaimana menyeimbangkan antara biaya operasional dengan pendapatan dari perusahaan. Mengurangi outlet dan karyawan menjadi salah satu pilihan seperti pisau bermata dua. Di lain pihak dapat mengurangi beban biaya perusahaan, namun di lain pihak dapat menghilangkan potensi dari pendapatan.

Pengurangan karyawan juga dapat menimbulkan tantangan tersendiri, hal ini dikarenakan mengingat nilai yang perusahaan telah investasikan terkait dengan kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia) juga tidak sedikit. Untuk dapat menyeimbangkan antara kebutuhan dan kepentingan perusahaan tersebut, maka berikut ini adalah tahapan yang dapat dijalankan oleh konsultan terkait dengan penetapan sistem remunerasi perusahaan retail.

(1) Penetapan Fungsi Core Business dan Support dalam Perusahaan

Core business dalam retail harus didefinisikan ulang. Lakukan analisis terkait dengan identifikasi perubahan pada bisnis retail. Apabila aktifitas penjualan dijalankan secara digital maka core business yang ditetapkan adalah unit kerja digital. Ada baiknya perusahaan melakukan transformasi bisnis dengan tepat untuk dapat meningkatkan penjualan perusahaan dengan tepat.

(2) Penetapan Desain Kompensasi Sales Operation

Retail sangat berhubungan dengan sales dan teknik sales dijalankan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan jenis produk. Penetapan kompetensi yang tepat dalam bidang sales akan mengidentifikasi nilai budget yang harus dikeluarkan perusahaan sesuai dengan persyaratan sales tersebut. Setelah dilakukan penetapan kompetensi yang dimaksud, maka ditetapkan sistem remunerasi berdasarkan pada gaji pokok serta tunjangan yang terkait dengan intensif penjualan.

(3) Desain Bonus dan Reward yang Tepat

Retail sangat berhubungan dengan SDM, sehingga sangat tepat apabila menetapkan sistem pengukuran prestasi karyawan yang dilengkapi dengan bonus dan reward.

Bagaimana penyusunan sistem remunerasi dalam Sistem Manajemen Retail Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan penetapan sistem kompenasi yang dimaksud. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)